Renungan Minggu 25 November 2012

Bacaan Alkitab: Wahyu 2:1-7

Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu  dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdau Allah.”

have mercy Tuhan Menyukai Hati Yang Berbelas KasihanJemaat di Efesus merupakan salah satu contoh yang baik untuk kita pelajari sebagai Jemaat GPIB di zaman ini. Mereka adalah jemaat yang sangat rajin beribadah. Mungkin mereka adalah jemaat yang tidak pernah melewatkan untuk selalu pergi beribadah di hari Minggu. Kalau sedang berwisata ke luar kota, mereka selalu mencari gereja untuk beribadah. Pokoknya tidak boleh tidak beribadah. Mereka juga adalah jemaat yang sangat aktif. Mungkin untuk ukuran kita sekarang, mereka aktif dalam perkunjungan, dalam diakonia dan mengisi meja putih menjelang Natal.

Bahkan yang luar biasa, mereka adalah jemaat yang sangat getol menjaga kemurnian pengajaran atau doktrin. Ketika Nikolaus dan para pengikutnya menawarkan jalan keluar palsu (mungkin ukuran sekarang yang serba instan, solusi itu tampak menguntungkan), jemaat di Efesus ini menolaknya, dan menunjukkan bahwa sebagai Jemaat Tuhan, mereka menyatakan tidak menyukai perbuatan yang dihasilkan oleh pengajaran Nikolaus itu.

Kelebihan Jemaat Efesus inilah yang patut kita teladani di tengah-tengah derasnya pengajaran yang menyatakan bahwa kemakmuran adalah bukti dari berkat Tuhan kepada kita.  Apabila pengajaran itu benar, tidak mungkin Rasul Paulus mengatakan bahwa dia justru bermegah atas kelemahannya (2 Korintus 11:30). Di tengah-tengah tekanan ekonomi akibat krisis keuangan dunia saat ini, solusinya bukanlah dalam hal pemilikan materi, tetapi dalam hal pemilikan hati yang berbelas kasihan.

Itu sebabnya, ketika Tuhan memuji jemaat di Efesus, Dia sekaligus juga mencela jemaat itu. Dikatakan oleh Tuhan bahwa jemaat di Efesus telah meninggalkan kasih yang mula-mula. Kehidupan jemaat yang luar biasa bila diukur secara lahiriah, ternyata tidak lagi dilakukan atas dasar kasih. Kondisi ini sama seperti apa yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13: 1 dimana dikatakan “sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

Secara historis, hilangnya kasih yang mula-mula itu mungkin sekali disebabkan karena jumlah jemaat semakin membesar, sehingga hubungan antar jemaat yang semula didasarkan pada prinsip “gotong royong” sudah berubah jadi “lu lu, gua gua.” Penyebab lainnya mungkin saja, di satu sisi karena terlalu sibuk dalam aktivitas rutin dan di sisi lain terlalu membuang energi dalam memerangi bidat dari para pengikut Nikolaus yang coba menggerogoti iman sebagian jemaat.

Hal-hal yang disebutkan di atas pasti juga terjadi pada jemaat GPIB di manapun di Indonesia Bagian Barat ini. Bahkan kita juga semakin terpaku pada hal-hal yang lahiriah maupun hurufiah. Sebagai contoh kita mulai menjalankan persembahan persepuluihan karena tertulis secara eksplisit dalam Maleaki (PL), tetapi tidak menyadari bahwa yang kita lakukan itu haruslah juga dilandasi motivasi untuk berlaku adil dan berbelas kasihan kepada jemaat yang berkekurangan, dimana kita mempercayakannya kepada gereja untuk menyalurankan kepada yang membutuhkan. Tuhan suka kita tetap setia dalam berlaku adil dan berbelas kasihan.

Sekali waktu, Tuhan Yesus menegur orang Farisi, sebagai berikut:  “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.  Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Teguran ini tertulis dalam Kitab Matius 23:23.

Supaya kita jangan menjadi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi Abad 21, marilah kita perhatikan solusi yang Tuhan tawarkan dalam Wahyu 2:5 di atas, yaitu untuk menyadari seberapa tidak bergunanya kehidupan Kristen tanpa kasih (1 Korintus 13), dan setelah menyadari hal itu kita patut bertobat dan melakukan dengan setia segala sesuatunya atas dasar motivasi untuk keadilan dan belas kasihan.

Kita membutuhkan prinsip keadilan dan kasih ini saat kita mengatasi masalah jemaat yang jarang hadir di gereja lewat perkunjungan, atau membantu jemaat yang mengalami kesulitan keuangan, dalam hal menyambut dan melayani jemaat yang datang beribadah pada hari Minggu, dalam mengabarkan Injil ke saudara-saudara kita yang tidak seiman di negara yang pluralistis ini.

Ini menjadi tugas kita bersama dan bukan tugas orang perorang. Tuhan Memberkati kita semua.